Konsisten dalam suatu hal kadang memang nggak mudah. Dan itulah yang terjadi pada saya. Yup, terkait blog ini. Udah dari dulu, tapi berapa banyak pemikiran yang sudah saya tulis?
Keledai tak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Katanya sih gitu..
Ini sudah kesekian kali saya gagal menepati janji terkait blog ini. Well, bisa jadi bukti kalo saya bukan keledai, tapi berarti . . . . . . . . .
Jumat, 01 November 2013
Kamis, 11 Juli 2013
Setiap Detik Adalah Pertaruhan Nyawa
Apa yang kamu lakukan detik ini? Apa
dampaknya nanti?
Apa kontribusi yang telah kau berikan
untuk orang sekitarmu?
Sudahkah kau melukiskan lekung bawah di
wajah orang tuamu?
Pernahkah tersadar jika tak ada orang
yang tau berapa masa hidup yang tersisa?
Ya, tanpa kita sadari, tiap detik kita
bertaruh.
Kita tak akan tau
apa yang akan terjadi esok, bahkan, beberapa detik setelah ini pun
kita tak tau apa yang akan terjadi
Mampukan kita membuat orang lain merasa
“kehilangan” karena kontribusi kita?
Ataukah kita hanya meninggalkan duka
sesaat dan tak akan pernah dikenang.
Lepasnya sukma dari raga ini adalah
kenisbian dalam hidup
Semoga ketika tiba saatnya napas
terhenti di saat yang tepat
Perbaiki dirimu selagi mampu..
*tamparan untuk diri
Jumat, 05 Juli 2013
Galau? Kebanyakan Berharap?
Ngebahas “galau”? Ketinggalan
banget sih -_- Tapi gpp deh buat nenangin hati #eh ;)
Galau itu ada karena kita udah terlalu berharap, ada yang kita harapkan menempati tempat itu
Tiba-tiba
keinget kata-kata itu lagi, salah satu poin yang didapat waktu ngobrol sama
salah satu senior, dalam suatu perjalanan, hampir satu tahun yang lalu. Bukan
tanpa alasan kalimat itu muncul lagi, tapi nggak penting buat ngebahas kenapa
kata-kata itu kembali terlintas dipikiran. :p
Galau itu
muncul karena keresahan, ada ketakutan. Galau juga muncul karena kita terlalu
banyak berprasangka. Ada harapan yang muncul, tapi ada juga kesadaran kenyataan
nggak selalu mengikuti kehendak hati. Kurang lebih gitu.
Well, waktu itu obrolan berkonteks ke masalah “pasangan”, sensitif ya. #GalauLagi #GagalPencitraan
Sempat kaget dengar cerita masa lalu senior itu tentang kegagalannya menjaga
interaksi dengan lawan jenis. Dari situlah awal poin yang saya ungkap. Beliau
bercerita, memang ada perbedaan tentang mengharapkan seseorang diusia yang dini
(sebut saja pacaran) dengan mencari seseorang yang memang satu visi.
Beliau bilang,
beliau sangat merasakan hal itu. Dan hipotesis beliau semakin kuat ketika
melihat temen-temannya yang merupakan aktivis pacaran makin “luntang-luntung”
nggak jelas karena galau. Kenapa sih nggak bagus untuk terlalu dini
mengharapkan sebuah nama untuk hal itu?
Ketika ada
interaksi berlebih (seperti yang saya sebut sebelumnya), ada harapan yang
tumbuh, tumbuh khayalan luar biasa yang sebenarnya itu semua muncul dari sebuah
kepura-puraan. Kata-kata indah mengalir. Ya, tapi balik lagi, cuma pura-pura,
khayalan itu tanpa visi yang jelas. Ketika khayalan itu dibenturkan dengan
kenyataan, nggak janji kalo itu semua bakal “baik-baik” aja.
Jangan pernah terpaku dengan
sebuah nama atau sosok tertentu, itu juga jadi sumber galau. Kok bisa? Ya
karena galau muncul saat kita terlalu berharap sama sesuatu #mBulet
Bayangin kalo harapan berupa
sifat, tanpa memasang nama. Mungkin akan lebih baik ;)
Berharap boleh, tapi jangan berlebihan.
Berharaplah mendapat yang terbaik tanpa
harus terpaku.
inspirasi: obrolan dengan senior
curhat sahabat
pengalaman *ups
Kamis, 04 Juli 2013
Bersyukur? Saya (masih) Harus Mempelajarinya
Pernah bersyukur?
Pasti pernah kan? Kebangetan kalo nggak pernah, coba pikir
seberapa beruntungnya dirimu.
Seringkali kita bersyukur setelah melihat suatu realita di
depan mata. Untuk bersyukur kita perlu melihat ke “bawah”, kita masih lebih
beruntung! Namun, apakah kita harus melih ke bawah dulu baru bisa bersyukur.
Sekali lagi, harus dikatakan, kita masih beruntung. Kenapa?
Setidaknya kita masih bisa bersyukur ketika melihat realita yang tak lebih baik
dari yang kita alami. Itu tandanya kita masih mampu mendekteksi dan
mengaktifkan rasa syukur kita. Hanya saja kepekaan sinyal bersyukur kita masih
harus diperkuat.
Seberapa bisa kita besyukur tanpa harus melihat yang terjadi pada orang lain? Rupanya alarm syukur saya belum terprogram secara otomatis
Rabu, 03 Juli 2013
Tentang Inspirasi
Perkenankan saya bertanya (baik pada diri saya sendiri atau
siapapun)
Seberapa banyak orang yang menginspirasi kita?
Siapa saja sosok-sosok itu?
Bagaimana karakteristik mereka?
Saya yakin banyak orang yang mampu menginspirasi kita,
disadari atau tidak disadari. Kok bisa sadar atau tidak?
Inspirasi adalah suatu kata yang menggambarkan dorongan
untuk bertindak, bukan melalui kata, melainkan melalui sebuah tindakan yang
mampu ‘mengajak’ orang lain juga. Yup, bisa jadi kita bergerak karena melihat
orang lain yang telah menapakin jejak tersebut lebih dahulu tetapi kita tidak
menganggap orang tersebut sebagai sosok yang menginspirasi. Itulah yang saya
maksud inspirator yang tidak kita sadari.
Lantas, siapa saja yang sebenarnya pantas kita jadikan
inspirator? Seorang inspirator tidak harus melulu tentang orang sukses yang
jauh di mata dan tak teraih. Inspirator bukan pula sosok yang tak tersentuh.
Sosok itu bahkan bisa denga mudah kita dapatkan disekitar kita. Benar, orang
terdekat kita. Inspirasi pun bisa muncul dari mereka. Banyak sosok yang
mengagumkan yang mendorong kita dengan aksinya.
Sosok yang memberikan inspirasi adalah orang yang sukses.
Bukan sukses dalam arti posisi atau materi, melainkan sukses menghadapi
dirinya. Sukses menaklukan tantangan dan keterbatasan dalam hidupnya serta lingkungannya,
sukses melampau mimpinya, dan sukses menghebatkan orang lain.
Munculnya kemampuan mengispirasi dalam diri seseorang
berawal dari aksi yang memberi kontribusi bagi dirinya dan orang lain.
Dan akhirnya..
Inspirasi bukan tentang meniru langkah, melainkan mempelajari dan menerapkan nilai perjuangan serta mengombinasikannya dengan hal lanl untuk membangun sesuatu yang lebih baik dibanding dengan yang diterapkan oleh sang inspirator.
3 Juli 2013
17.26
kasattwika
Selasa, 02 Juli 2013
Memungkinkan yang Tidak Mungkin
Pernah
nggak sih ngerasa pengen banget ngedapeti sesuatu tapi tiba-tiba
kepentok sama pikiran ilmu belum nyampe? Merasa mimpi dan kemampuan
belum sebanding. Mungkin itu yang disebut dengan membatasi kemampuan
diri. Kalau nggak diimbangi dengan ‘pemaksaan’ diri dan pikiran
positif, bakal bahaya.
Banyak
hal yang kita pikir nggak mungkin kita lakuin. Tapi bukan nggak
mungkin bagi kita buat memungkinkan hal yang kita pikir nggak
mungkin. Yang pasti buat memungkinkan yang terlihat nggak mungki ini
diperluin kekuatan lain. ;)
Dalam
ideku ada beberapa upaya untuk memungkinkan hal yang nggak mungkin.
Setiap
tindakan membutuhkan alasan, kuatkan alasan untuk menjadi yang kau
inginkan agar semua itu tidak sia-sia. Alasan di sini juga termasuk
niat. Seberapa besar keinginan kita untuk mencapai hal yang kita
inginkan. Kekuataan alasan dan niat akan sesuatu yang kita kejar bisa
menjadi kekuatan lebih untuk memperjuangkan hal yang kita inginkan
agar lebih mungkin untuk diraih.
Mungkin
atau tidak mungkin juga berkaitan dengan kemampuan dan apa yang kita
targetkan. Yang harus diingat tentang target dan kemampuan adalah
jangan membuat impian berdasarkan kemampuan, buatlah kemampuan yang
layak untuk mencapai impian yang luar biasa. Buat punya kemampuan
memang bukan hal yang mudah. Segala sesuatu butuh pengorbanan, begitu
pula untuk memiliki kemampuan, seberapa besar pengorbanan cukup
berbanding lurus dengan ketercapaian kemampuan dan impian.
Keyakinan
dan pemantapan diri juga penting. Coba deh pikir, kalo nggak yakin
sama diri sendiri, gimana orang lain mau yakin? Rada mbulet, tapi
keyakinan ini juga berhubungan sama kemampuan. Semakin mampu
seseorang dalam menghadapi suatu hal, tentu keyakinannya lebih kuat.
Tetapi, beda kasus kalo buat orang yang terlalu bergantung sama
keberuntungan.
Manusia
bisa memprediksi, tapi segala sesuatu yang terjadi tentu atas
kuasa-Nya. Segala sesuatu akan mungkin atas kehendak-Nya. Yang
penting tetap percaya akan kuasa-Nya dan hikmah yang tak mudah
terterka oleh manusia.
Balik
lagi ke sisi manusia dengan usahanya, salah satu cara menyelesaikan
ketidakmampuan yang membatasi diri dan memunculkan rasa
ketidakmungkinan mencapai target adalah meningkatkan kemampuan. Tapi
kalau tetep ngotot dan nggak mau ningkatin kemampuan, ada saran yang
lebih baik: berhentilah bermimpi, biarkan hidupmu tak bertujuan. :p
Tulisan ini juga saya muat di https://www.youngontop.com/notes/memungkinkan-yang-tidak-mungkin-gy3rsaug
2.24
am
6
Juli 2012
(hampir setahun | membuka kembali file lama)
Sebuah Perjalanan (?)
Libur
semester memang udah mulai, tapi masih aja terdapar di rantau karena
beberapa urusan. Rasanya butuh banyak waktu untuk mengembalikan jiwa
yang entah melayang ke mana. Satu semester kemarin, kehidupan sebagai
mahasiswa sangat kental dan terasa sedikit membosankan. Bolak-balik
kampus kosan dan berkutat dengan laporan. Rasanya banyak waktu yang
tersita. Mungkin juga merasa waktu tersita karena belum berhasil
menerapkan rencana indah pembagian waktu. Yang jelas, kehidupan
kampus kosan itu sangat membosankan.
Rasanya
udah lama banget nggak jalan-jalan, pergi ke suatu tempat dan melihat
realita yang ada. Udah lama banget nggak dapet pelajaran secara
langsung dari apa yang dilihat. Ya aktivitas yang cukup aku rindukan.
Sejak kecil aku cukup terbiasa melihat sisi lain kehidupan (atau
kehidupan yang tidak aku jalani) saat aku berpergian.
Aku
bukan tipe orang yang komunikatif yang dengan mudah membangun suatu
perbincangan yang hangat dengan orang yang baru aku temui, tetapi
orang tuaku adalah orang yang cukup mudah bersosialisasi. Di saat
berpergian, tak jarang orang tuaku berbincang dengan orang yang
ditemui, tentu saja aku mendengarkannya.
Banyak
hal yang bisa aku pelajari dari mendengarkan pembicaraan seperti itu.
Aku bisa belajar lebih bersyukur atas kehidupanku yang tidak sempurna
tapi cukup mengagumkan untukku. Aku bisa melihat realita dan
merasakan apa yang oranglain rasakan, menumbuhkan rasa empati,
mencoba memikirkan solusi atas suatu kesulitan (walau tidak
terungkap).
Pembelajaran
saat berada diperjalanan tidak hanya didapatkan dari suara. Selain
melalui perbincangan, tak jarang aku mendapat suatu pembelajaran
melalui gambaran. Melihat orang yang berada di sekeliling tempatku
berada dan memperhatikan apa yang dilakukannya. Secara nyata dapat
terlihat suatu perjuangan, pengorbanan, kasih sayang, dan bebagai hal
yang mampu menjadi cambuk bagi diri untuk terus memperbaiki diri.
Memang
tidak harus melakukan perjalanan khusus untuk mendapatkan hal itu.
Sederhananya, saat berjalan dari kos ke kampus, hal itu sebenarnya
bisa diperoleh. Mungkin aku yang sedikit jenuh dengan situasi ini
sehingga ingin mendapatkan pelajaran dalam perjalanan dengan situasi
yang berbeda.
6
Juli 2012
1.28
am
(hampir satu tahun yang lalu)
Langganan:
Postingan (Atom)